Aside

TANAH LONGSOR

TANAH LONGSOR

PENYEBAB DAN REKOMENDASI SOLUSI

Studi kasus peristiwa longsor yang terjadi di Desa Semen,

Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

 

 

 

 

 

 

Oleh:

NOVALIA KUSUMARINI

0810480191

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

PROGRAM STUDI PENGELOLAAN TANAH DAN AIR

MALANG

2012


 

Tanah Longsor

Penyebab dan Rekomendasi Solusi

Studi kasus peristiwa longsor yang terjadi di Desa Semen,

Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

 

 

Pendahuluan

Longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering menimbulkan kerugian, baik berupa korban jiwa maupun materi. Longsor sendiri merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Longsor sangat dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Menurut Vulcanological Survey of Indonesia (2010), proses terjadinya longsor diawali oleh meresapnya air yang akan menambah berat tanah. Jika air menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.

Penyebab longsor dapat karena aktivitas manusia maupun terjadi secara alami. Meskipun demikian, aktivitas manusia disinyalir sebagai penyebab longsor terbesar yang terjadi di Indonesia termasuk yang terjadi di Desa Semen, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Pada lokasi tersebut, terdapat tebing tinggi dengan kelerengan sangat curam. Namun, penutup lahannya bukan hutan. Hal ini tentu saja disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman. Oleh karena itu, meskipun faktor alam penyebab longsor dominan berada disana, yakni kelerengan yang curam, namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penjarahan hutan oleh manusia menjadi pemicu terjadinya longsor tersebut.

Untuk meminimalkan terjadinya tanah longsor di Indonesia, maka perlu dilaksanakan tindakan pencegahan (mitigasi). Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengurangi dampak tanah longsor, seperti menanam pohon di tempat-tempat yang berpotensi terjadi longsor agar akar tanaman dapat mengikat tanah, atau membuat tembok penahan pada tebing-tebing yang memiliki kelerengan curam hingga sangat curam, dan lain sebagainya. Untuk mendukung tindakan tersebut, perlu disusun perundangan dan panitia pengawas. Karena tanpa panitia pengawas, perundangan yang telah disusun akan menjadi sia-sia.

Pengawasan dan usaha pencegahan tanah longsor dapat dilakukan dengan kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat khususnya masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor. Hal ini karena masyarakat merupakan penyebab sekaligus korban dalam bencana tanah longsor. Sebagai penyebab, masyarakat berperan dalam turut meluasnya alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian meskipun di daerah-daerah berlereng curam karena desakan ekonomi yang menjadi salah satu pemicu terjadinya tanah longsor. Sebagai korban, karena masyarakat yang merasakan dampak secara langsung akibat bencana tanah longsor baik berupa kerugian materi, psikologis, hingga korban jiwa. Oleh karena itu, masyarakat harus disiapkan untuk pencegahan dan penanganan bencana tanah longsor

Tujuan penulisan ini untuk mengkaji penyebab longsor yang terjadi di Desa Semen, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Setelah mengetahui penyebabnya, maka dapat diberikan rekomendasi solusi bencana tersebut baik secara fisik maupun secara kelembagaan. Harapanya, dari kajian bencana yang ada di lokasi studi dapat memberikan gambaran melakukan mitigasi bencana tanah longsor dan penanganan bencana.

Studi peristiwa longsor

Studi didasarkan pada peristiwa longsor yan terjadi di Desa Semen, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang pada Senin, 31 Oktober 2011 pukul 22.00 WIB. Peristiwa longsor ini terjadi setelah hujan deras yang mengguyur lokasi tersebut selama beberapa hari. Akibatnya, tebing setinggi 10 m runtuh. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya saja akses jalan alternatif dari Magelang ke Temanggung putus disebabkan oleh material longsor yang menutup badan jalan hingga 60 m. Berikut adalah gambar kejadian longsor yang ada di lokasi studi. (Sumber: Detik.com edisi Selasa, 1 November 2011).

Gambar 1. Peristiwa longsor yang terjadi di Desa Semen, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang

Identifikasi jenis longsor di lokasi studi

Terdapat berbagai macam jenis longsor (Vulcanological Survey of Indonesia, 2010), yaitu:

  1. Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
  2. Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung.
  3. Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
  4. Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung, terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
  5. Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah waktu yang cukup lama, longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang-tiang telepon, pohon, atau rumah miring ke bawah.
  6. Aliran bahan rombakan terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter, seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunungapi.

Ditinjau dari gambar 1, peristiwa longsor yang terjadi di lokasi studi merupakan longsoran rotasi, yaitu bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung. Hal ini dikarenakan longsoran terjadi di tebing yang memiliki kelerengan curam sebagai bidang gelincir dan runtuhnya massa tanah membentuk cekungan yang cukup dalam. Namun, tidak dapat dikatakan runtuhan batu karena tidak ada indikasi massa tanah yang jatuh langsung tanpa melewati bidang gelincirnya. Artinya, massa tanah tidak tercampur antara bagian atas dan bawah, melainkan bagian atas tetap berada di atas bagian bawah meskipun letaknya berpindah di bawah tebing.

Identifikasi penyebab longsor di lokasi studi

Pada prinsipnya, longsor terjadi karena gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah, sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh kelerengan, air, dan berat jenis tanah batuan (Vulcanological Survey of Indonesia, 2010). Adapun faktor-faktor penyebab tanah longsor adalah alam dan manusia. Faktor alam yang menyebabkan longsor antara lain:

  1. Perubahan pola hujan, ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada musim penghujan seiring meningkatnya intensitas hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal ini menyebabkan muncul pori-pori atau rongga tanah, kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah di permukaan. Pada saat hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak. Tanah mengembang kembali dengan cepat. Pada awal musim hujan, kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor karena melalui tanah yang merekah, air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan, longsor dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.
  2. Komposisi mineralogi dan bentuk struktural yang dapat memperlemah kekuatan batuan atau lapisan kedap air
  3. Kemiringan lereng yang tajam, lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.
  4. Sistem hidrologi, sistem hidrologi yang menyebabkan longsor terkait dengan muka air tanah dan drainase internal.
  5. Gempa bumi dan letusan gunung berapi, peristiwa tersebut menyebabkan getaran pada tanah yang dapat menyebabkan rekahan.

Sedangkan faktor manusia yang menyebabkan longsor antara lain:

  1. Hilangnya penutupan vegetasi, vegetasi di atas tanah berfungsi untuk mencengkeram dan menjangkar tanah. hilangnya vegetasi menyebabkan tidak ada yang mengikat tanah, akibatnya bila gaya pendorong meningkat, maka mudah terjadi longsor.
  2. Perubahan kemiringan lereng, hal tersebut menyebabkan lereng menjadi lebih terjal sehingga daya pendorong lebih tinggi.
  3. Arus aliran sungai yang cepat
  4. Pembangunan jalan dan bangunan pada lokasi rawan longsor, hal tersebut menyebabkan gaya pendorong meningkat akibatnya mudah terjadi longsor.
  5. Penambangan bahan galian C, hal tersebut menyenankan perubahan lereng, bahkan menjadi cekungan-cekungan ke dalam lereng sehingga gaya pendorong meningkat.

Longsor terjadi ketika ketika pengaruh gaya gravitasi lebih besar dari pada resistensi lereng untuk bertahan. Gaya penahan (resisting forces) yang mengontrol kestabilan lereng meliputi beberapa komponen antara lain: kekuatan (strength) dan kohesi (cohession) material penyusun lereng, fraksi antar butiran dan pendukung eksternal lereng lain. Longsor yang terjadi di lokasi studi diketahui berawal hujan deras yang terjadi selama beberapa hari. Selain itu, lokasi studi merupakan tebing tinggi, setinggi 10 m dan memiliki kelerengan sangat curam. Di bawah tebing tersebut adalah jalan alternatif yang menghubungkan Magelang dengan Temanggung, sehingga diperkirakan tebing tersebut juga dipertajam oleh manusia untuk tujuan pelebaran jalan. Bila diidentifikasi, faktor yang menyebkan longsor di lokasi studi, yaitu:

  1. Faktor alam
  2. Perubahan curah hujan

Longsor terjadi akhir bulan Oktober 2011 pada musim penghujan. Longsor didahului oleh hujan lebat yang terjadi selama beberapa hari. Sehingga, bisa dipastikan bahwa curah hujan merupakan faktor utama yang memicu terjadinya longsor di lokasi tersebut.

  1. Kemiringan lereng yang tajam

Telah dijelaskan di atas bahwa lokasi longsor berupa tebing setinggi 10 m. dapat dilihat pada gambar 1, bahwa kelerengan tebing tersebut sangat curam, mendekati 90o, hal tersebut merupakan salah satu pemicu longsor karena lereng merupakan salah gaya pendorong longsor.

  1. Faktor manusia
  2. Penutupan vegetasi

Dapat dilihat pada gambar 1 bahwa penggunaan lahan pada lokasi longsor bukan hutan alami, karena di dekat tebing terdapat rumpun bambu dan pohon kelapa. Penutupan vegetasi semacam itu tidak cukup kuat untuk menahan tanah karena sistem perakarannya tidak sama dengan pohon yang memiliki sistem perakaran tunggang dan dalam. Bambu dan kelapa tidak memiliki daya jangkar akar sekuat hutan alami, sehingga bila gaya pendorong meningkat, sementara penahan tidak mampu mengikat tanah maka dapat terjadi longsor.

  1. Perubahan kemiringan lereng

Lokasi longsor merupakan tebing yang di bawahnya adalah jalan alternatif. Sehingga, sangat mungkin tebing tersebut mengalami perubahan kemiringan lereng akibat pembuatan dan pelebaran jalan. Hal ini mengakibatkan lereng semakin terjal sehingga meningkatkan gaya pendorong karena kelerengan berbanding lurus dengan  kejadian longsor.

Rekomendasi solusi secara teknis

Solusi penanganan longsor secara umum bertujuan  untuk mencegah air agar tidak terkonsentrasi di atas bidang luncur, mengikat massa tanah agar tidak mudah hancur, dan merembeskan air ke lapisan tanah yang lebih dalam dari lapisan kedap (bidang luncur). Dalam merekomendasikan penanganan longsor perlu memperhatikan proses-proses penyebab longsor agar penganan dapat tapat sasaran. Dalam menanggulangi longsor yang terjadi di lokasi studi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara vegetatif dan mekanik. Berikut adalah cara yang dapat digunakan untuk menanggulangi longsor di lokasi studi (Balai penelitian dan pengembangan pertanian, 2007):

  1. Cara vegetatif

Cara vegetatif dapat dilakukan dengan menanam pohon, semak, dan rumput sehingga menghasilkan kanopi multistrata. Pohon sebagai kanopi strata pertama, semak sebagai kanopi strata kedua, dan rumput strata ketiga. Fungsi menanam pohon, semak, dan rumput, antara lain:

  • Media intersepsi hujan
  • Seresahnya melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan secara langsung
  • Menyalurkan air ke sekitar perakaran dan merembeskannya ke lapisan yang lebih dalam serta melepasnya secara perlahan-lahan.
  • Mengikat massa tanah
  • Menghasilkan eksudat akar sebagai pemantap agregat

Agar cara vegetatif ini berhasil, maka perlu dilakukan pemilihan tanaman yang akan dikombinasikan. Tanaman yang dipilih harus mudah beradaptasi, memiliki perakaran rapat dan dalam sehingga memiliki daya cengekream dan daya jangkar akar tinggi, memiliki kanopi yang relatif rapat, relatif cepat tumbuh, dan sebisa mungkin memiliki fungsi ekonomi bagi masyarakat.

  1. Secara mekanis

Karena lokasi studi adalah di tebing curam yang berada di tepi jalan, maka penanganan tanah longsor secara mekanis dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu membuat trap-trap terasering dan bangunan penguat tebing.

  1. Membuat trap-trap terasering

Trap-trap terasering ini memiliki fungsi menahan longsoran tanah pada tebing atau lahan yang curam, memperkuat bidang berteras, serta melengkapi dan memperkuat cara vegetatif. Bangunan ini dibuat dengan cara membentuk teras-teras dan memperkuat tampingannya dengan semen atau batu yang disusun, untuk mengalirkan air maka dibuat saluran drainase dengan membuat lubang-lubang dengan pipa, serta pada bidang olah ditanami pohon untuk memperkuat dan membantu meresapkan air ke lapisan tanah yang lebih dalam. Berikut adalah gambar bangunan trap-trap terasering.

Gambar 2. Trap-trap terasering

  1. Membuat bangunan penguat tebing

Bangunan ini berfungsi untuk menahan longsoran tanah pada tebing yang sangat curam yang tidak mampu dikendalikan dengan cara vegetatif. Adapun pembuatan dan pemeliharaan bangunan ini adalah:

  • Tebing diperkuat dengan teras-teras
  • Diperkuat dengan semen atau batu yang disusun rapat
  • Jika dibuat dari semen maka diberikan lubang-lubang dengan pipa paralon untuk mengalirkan kelebihan air
  • Pada bagian atas dinding tebing ditanami pepohonan untuk memperkuat dan membantu meresapkan air ke lapisan tanah yang lebih dalam.

Gambar 3. Bangunan penguat tebing

 

Mitigasi tanah longsor

Pada dasarnya tanah longsor tidak terlepas dari gerakan tanah. Direktorat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi membagi zona kerentanan gerakan tanah berdasarkan tingkat kerentanannya sebagai  berikut:

  1. Zona kerentanan gerakan tanah tinggi

Gerakan tanah besar hingga sangat kecil telah sering terjadi dan akan sering terjadi

  1. Zona kerentanan gerakan tanah menengah

Gerakan tanah besar hingga kecil dapat terjadi terutama di daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing pemotong jalan, dan pada lereng yang mengalani gangguan.

  1. Zona kerentanan gerakan tanah sedang

Gerakan tanah jarang terjadi kecuali pada daerah yang lerengnya mengalami gangguan

  1. Zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah

Tidak ditemukan gejala gerakan tanah lama maupun baru kecuali pada daerah sekitar tebing sungai

Faktor terjadinya gerakan tanah dapat disebabkan oleh alam dan manusia. Oleh karena itu, perlu tindakan pencegahan atau mitigasi agar dapat mencegah terjadinya bencana tanah longsor yang menyebabkan berbagai macam kerugian.

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik secara fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bahaya (UU No. 24 Th. 2007). Adapun tahapan mitigasi bencana tanah longsor menurut Vocanological Survey of Indonesia (2010) adalah sebagai berikut:

  1. Pemetaan

Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah untuk masukan kepada masyarakat dan pemerintah sebagai dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana longsor.

  1. Penyelidikan

Mempelajari penyebab dan dampak dari suatu bencana sehingga dapat digunakan dalam perencanaan penanggulangan bencana dan rencana pengembangan wilayah

  1. Pemeriksaan

Melakukan penyelidikan saat dan sesudah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penanggulangannya

  1. Pemantauan

Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis, agar diketahui tingkat bahayanya.

  1. Sosialisasi

Memberikan pemahaman kepada pemerintah dan masyarakat tentang bencana tanah longsor dan akibat yang ditimbulkan.

Rancangan pengaturan kelembagaan

Penanggulangan bencana sebenarnya telah diatur dalam undang-undang, namun kenyataan yang terjadi di lapang tidak semua sesuai dengan peraturan perundangan. Undang Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU PB) menyebutkan bahwa penyelenggaraan penanggulangan (manajemen) bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Sedangkan pasal 4 antara lain menyebutkan bahwa penanggulangan bencana bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana; dan menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh serta membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta. Pasal 5 dan 6 antara lain menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, dengan tanggung jawab melakukan pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan dan melakukan perlindungan masyarakat dari dampak bencana. Peraturan Pemerintah no 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana pasal 7 (1) menyebutkan bahwa pengurangan risiko bencana merupakan kegiatan untuk mengurangi ancaman dan kerentanan serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Agar peraturan perundangan dapat dijalankan sebagaimana mestinya dan mitigasi bencana tanah longsor secara umum dapat berjalan dengan baik, diperlukan kelembagaan yang mewadahi peran dan kerjasama multipihak. Hubungan multipihak dalam kelembagaan mitigasi bencana dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 4. Hubungan antar pihak dalam mitigasi bencana tanah longsor

Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa semua pihak memiliki kepentingan dalam melakukan mitigasi bencana tanah longsor baik yang berkepentingan secara langsung maupun yang tidak langsung. Kepentingan masing-masing pihak antara lain:

Gambar 5. Matriks kepentingan multipihak

Ditinjau dari matriks di atas, masing-masing pihak memiliki kepentingan terhadap mitigasi bencana tanah longsor meskipun kepentingannya berbeda. Bila masing-masing pihak memiliki kesadaran akan kebutuhannya sendiri, maka dalam menjalankan perannya untuk melakukan mitigasi dapat dilakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan tujuan mencegah terjadinya bencana tanah longsor. Adapun peran yang dapat dilakukan oleh masing-masing pihak antara lain:

  1. Pemerintah
  • Merencanakan kegiatan mitigasi bencana tanah longsor bersama masyarakat dan LSM
  • Membuat peraturan perundangan terkait dengan mitigasi bencana
  • Membentuk panitia khusus mitigasi bencana tanah longsor
  • Memberikan bantuan dana yang dibutuhkan untuk mitigasi bencana longsor
  • Melakukan evaluasi kegiatan mitigasi
  1. Masyarakat
  • Merencanakan kegiatan mitigasi bencana tanah longsor bersama pemerintah dan LSM
  • Menjalankan dan mengawasi kegiatan mitigasi bencana
  • Melakukan evaluasi kegiatan mitigasi
  1. LSM
  • Merencanakan kegiatan mitigasi bencana tanah longsor bersama pemerintah dan masyarakat
  • Menjadi fasilitator antara pemerintah dan masyarakat
  • Mendampingi masyarakat dalam melakukan kegiatan mitigasi
  • Melakukan evaluasi kegiatan mitigasi
  1. Pihak luar
  • Mendukung kegiatan mitigasi bencana tanah longsor
  • Memberikan bantuan dana yang dibutuhkan dalam kegiatan mitigasi

Setelah mengetahui peran masing-masing, kegiatan mitigasi bencana tanah longsor dapat dilakukan dengan efektif. Adapun kegiatan mitigasi yang dapat diusahakan secara vegetatif dapat dibuat dengan menanam pohon. Karena pohon dapat berfungsi untuk intersepsi hujan, seresah melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan secara langsung, menyalurkan air ke daerah perakaran dan merembeskannya ke lapisan yang lebih dalam serta melepasnya secara perlahan-lahan. Pemilihan tanaman harus diperhatikan kemampuan adaptasi dengan lingkungan setempat, relatif cepat tumbuh, serta memiliki perakaran yang dalam dan rapat.

Selain menanam pohon mitigasi bencana longsor atau konservasi tanah vegetatif juga dapat dilakukan dengan menanam semak. Semak berfungsi untuk intersepsi air hujan strata/ lapisan kedua setelah pohon sehingga energi pukulan air hujan semakin kecil. Untuk intersepsi strata/ lapisan ketiga dapat ditanam rumput. Selain intersepsi hujan, rumput juga berfungsi dengan menghasilkan eksudat akar sebagai perekat agregat tanah.

Mitigasi bencana longsor secara mekanik dapat dilakukan dengan membuat terasering pada lahan berlereng, membuat saluran drainase, bangunan penahan material longsor, serta dam pengendali. Terasering dimaksudkan untuk memanipulasi kelerengan. Teras-teras dibuat searah dengan kontur atau tegak lurus dengan arah lereng agar dapat meminimalkan limpasan permukaan. Jenis teras disesuaikan dengan kelerangan. Bila lereng semakin curam maka dibuat teras bangku, sedangkan bila lereng agak datar dapat dibuat teras gulud.

Saluran drainase yang dapat dibuat antara lain saluran pengelak yang berfungsi untuk mencegah masuknya aliran permukaan dari daerah di atasnya ke daerah di bawahnya yang rawan longsor, mengalirkan kelebihan air ke saluran pembuangan, serta memperpendek lereng sehingga mengurangi erosi. Selain saluran pengelak terdapat saluran teras yang berfungsi menampung air yang mengalir dari teras dan memberi kesempatan air untuk masuk ke dalam tanah. Ada pula saluran pembuangan air yang berfungsi untuk menampung dan membuang air dari saluran pengelak dan saluran teras ke sungai atau tempat penampungan lainnya tanpa menyebabkan erosi. Selain itu, ada pula bangunan terjunan yang berfungsi mengurangi kecepatan aliran air sehingga tidak merusak dan memperpendek panjang lereng untuk memperkecil erosi dan longsor.

Untuk mitigasi mekanik lainnya dapat dibuat bangunan penahan longsor, antara lain bronjong dan bangunan penguat tebing. Bronjong dapat dibuat dari bambu maupun batu yang berfungsi untuk penahan material longsor. Sedangkan bangunan penguat tebing dibuat dengan tujuan menahan longsoran tanah pada tebing yang sangat curam.

Bangunan terakhir untuk mitigasi secara mekanik adalah dam pengendali. Dam pengendali dapat dibuat secara permanen dan disusun dari batuan lepas. Dam pengendali merupakan cara terkhir dalam konservasi secara mekanik karena bangunan ini membutuhkan biaya yang mahal.

Selain bangunan-bangunan tersebut, mitigasi bencana tanah longsor juga dapat dilakukan dengan berbagai cara yang lain seperti memasang alat pendeteksi. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan pemetaan daerah-daerah rawan longsor agar masyarakat dapat waspada terhadap bahaya yang dapat timbul sewaktu-waktu akibat tanah longsor.

Strategi penumbuhan partisipasi masyarakat

Tanpa partisipasi masyarakat, kelembagaan mitigasi bencana tanah longsor tidak dapat berjalan secara optimal. Akibatnya, kegiatan mitigasi tanah longsor pun tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, peran masyarakat sangat penting dalam kegiatan ini. Namun, terkadang sulit untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi agar dapat menumbuhkan partisipasi masyarakat. Adapun stratetegi tersebut berupa:

  1. Mengajak masyarakat untuk merumuskan ide dalam kegiatan mitigasi bencana
  2. Mengajak masyarakat dalam merumuskan masalah dan cara penyelesaiannya
  3. Mengajak masyarakat memilih alternatif pemecahan masalah
  4. Bersama-sama dengan masyarakat menjalankan kegiatan sesuai dengan pilihan yang telah ditentukan bersama.

Dengan demikian masyarakat akan merasa program tersebut adalah milik mereka sehingga akan turut menjaga dan berpartisipasi aktif dalam melakukan mitigasi bencana longsor.

Contoh mitigasi bencana tanah longsor yang berbasis partisipasi masyarakat dilaksanakan di Desa Kalitlaga, Kecamatan Pagetan, Kabupaten Banjarnegara. Kegiatan mitigasi bencana tanah longsor dilakukan dengan memasang alat sistem peringatan dini gerakan tanah. Alat ini menggabungkan beberapa alat, yaitu extensometer, alat penakar curah hujan, dan sirine. Tujuan utama dipasangnya alat tersebut adalah untuk memantau adanya pergerakan tanah hingga batas kondisi kritis sirine berbunyi. Saat sirine (I) berbunyi berartii hujan kritis terjadi. Sirine (I) dibuat untuk mengkondisikan masyarakat agar siaga. Sirine (II) berbunyi bila air hujan telah meresap ke dalam tanah dan mengakibatkan retakan tanah melebar hingga mencapai batas kritis yang ditentukan alat, yaitu 5 cm. Saat sirine (II) berbunyi, maka masyarakat yang sudah siaga harus segera meninggalkan rumah. Dengan sistem peringatan dini maka diharapkan lokasi rawan telah bebas dari hunian saat longsor terjadi (Parlindungan, 2008).

Adapun partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini adalah dengann memberikan public education, yaitu dengan mengadakan sosialidasi dan pelatihan tentang bencana alam, berbaikan jalan dan lingkungan yang berfungsi sebagai jalur evakuasi, gladi evakuasi, pembuatan peta rawan bencana, pemasangan alat sistem pperingatan dini yang murah dan sederhana, serta relokasi. Pemasangan alat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sehingga akan timbul kepedulian dan rasa memiliki.

Kesimpulan

Lokasi studi terletak di Desa Semen, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Lokasi studi memiliki jenis longsoran rotasi yang disebabkan oleh perubahan pola hujan, kelerengan yang tajam, dan vegetasi. Untuk menangani longsor secara vegetasi dilakukan dengan menanam pohon, semak, dan rumput. Sedangkan secara mekanis dilakukan pembuatan trap-trap terasering dan bangunan penguat tebing.

Untuk melakukan mitigasi bencana tanah longsor dilakukan kerjasama multipihak antara masyarakat, pemerintah, LSM, dan pihak luar. Hal ini karena semua pihak tersebut memiliki kepentingan sehingga diharapkan mereka dapat menjalankan perannya masing-masing untuk mitigasi bencana tanah longsor. Agar mitiasi dapat berjalan optimal, maka dialakukan dengan partisipasi masyarakat. Kegiatan mitigasi berupa pemetaan, penyelidikan, pemeriksaan, pemantauan, sosialisasi.

Daftar Pustaka

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 2007. Petujuk Teknis Teknologi Pengendalian Longsor. Departemen Pertanian. Bogor

Nasution, M. Safii. 2005. Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas. IPB. Bogor

Parlindungan, Ranto et al. 2008. Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat pada Daerah Rawan Longsor di Desa Kalitlaga Kecamatan Pagetan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. Dalam Jurnal Teknik Sipil No. XVIII/ 3 September 2008.

Pool. 2011. Hujan Deras, Tebing Setinggi 10 Meter Longsor. Dalam www.detik.com edisi 1 November 2011.

Priyono, Dwi Kuswaji dan Priyono. 2008. Analisis Morfometri dan Morfostruktur Lereng Kejadian Longsor di Kecamatan Banjarmangu Kecamatan Banjarnegara. Dalam jurnal Forum Geografi, Vol. 22 No. 1 Juli 2008.

Sadisun, Imam A. 2005. Usaha Pemahaman terhadap Stabilitas Lereng dan Longsoran sebagai Langkah Awal dalam Mitigasi Bencana Longsor. Dalam Workshop Penanganan Bencana Gerakan Tanah. Bandung, 15-16 Desember 2005.

Vulcanological Survey of Indonesia. 2010. Pengenalan Gerakan Tanah. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral

Widodo, Amin. 2011. Tanah Longsor, Bencana Alamkah?. Dalam www.geologi.iagi.or.id. Tanggal akses 4 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s